Tuesday, April 7, 2015

sinau kimia tibakno ora serem banget

Beton yang Retak Bisa Kembali Utuh

Mahasiswa ITB Rhesa Avila Zainal menciptakan rekayasa teknologi baru. Dia melahirkan ’’semen hidup’’. Disebut hidup karena semen itu mampu memperbaiki kerusakan-kerusakannya sendiri.
MENJELANG akhir semester genap tahun akademik 2014–2015, suasana Kampus ITB di Jalan Ganesha, Bandung, tambah ramai. Aktivitas perkuliahan semakin padat. Selain di dalam kelas, kegiatan akademis lain seperti diskusi-diskusi juga terlihat di pelataran, taman, dan kantin.
Tidak terkecuali yang dilakukan Rhesa Avila Zainal, mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri. Selain sibuk kuliah, dia baru merampungkan eksperimennya tentang semen hidup. Karya inovasi itu menjadi salah satu karya paling menonjol dalam ITB Innovators Move 2015.
Kompetisi bergengsi tersebut diikuti 120 judul proposal, namun hanya dipilih sembilan sebagai pemenang dan berhak dipertemukan langsung dengan pelaku usaha. Tujuannya, hilirisasi atau mewujudkan inovasi itu menjadi barang siap jual.
’’Seleksinya sangat ketat. Dari 120 proposal diciutkan lagi menjadi 25 sebelum akhirnya tinggal sembilan yang dinyatakan sebagai pemenang,’’ ujar Rhesa ketika ditemui di kampusnya kemarin (6/4).
Dalam kompetisi antarmahasiswa ITB itu, Rhesa dibantu teman sejawatnya, Corwin Rudly. Setelah memutar otak, mahasiswa kelahiran Jakarta, 17 Maret 1994, tersebut mendapatkan permasalahan kronis Indonesia, yakni infrastruktur jalan yang rusak, sebagai ide dasar karyanya. Apalagi dia sering menjumpai sendiri saat bepergian lewat jalan darat.
’’Saat mengikuti kuliah kerja di beberapa kota di Sumatera, saya bisa merasakan sendiri bagaimana kondisi jalan-jalan di trans-Sumatera. Jalannya banyak yang rusak,’’ ungkap Rhesa.
Anak pasangan Hery Adriawan Zainal dan Meirina Zainal itu mengaku tidak bisa menikmati perjalanan jauhnya dengan menggunakan bus lintas Sumatera. Selain berlubang, banyak jalan yang bergelombang. ’’Saya sampai tidak bisa tidur selama perjalanan.’’
Dia lalu mengumpulkan sejumlah referensi dari surat kabar maupun media lain untuk mempertajam pokok pembahasan temanya. Misalnya, informasi tentang anggaran untuk perbaikan jalan raya sepanjang jalur pantura (pantai utara) yang cukup fantastis, Rp 1,7 triliun per tahun. Data lainnya adalah perihal anggaran perbaikan jalan yang disiapkan Pemprov DKI Jakarta yang mencapai Rp 250 miliar per tahun.
’’Artinya, biaya yang diperlukan untuk perbaikan jalan begitu besar. Karena itu, saya mengajukan karya inovasi semen hidup untuk menekan biaya renovasi, bahkan menghapusnya,’’ beber Rhesa.
Berbekal ilmu yang didapat di kelas kimia, Rhesa lantas mengaplikasikan makhluk hidup renik atau mikroorganisme ke dalam campuran semen sebagai bahan baku pembuatan beton. Mikroorganisme yang cocok untuk inovasi itu masuk dalam rumpun atau tipe bacillus. Bakteri tersebut dipilih karena bisa mengeluarkan kotoran berupa zat kapur. Cocok dengan bahan baku semen yang juga zat kapur.
Sifat lain mikroorganisme yang satu ini juga unik. Jika mendapati lingkungan yang tidak cocok, ia akan menjadi spora. Dalam bahasa sederhana, mikroorganisme tipe bacillus akan mati suri sendiri dan akan hidup lagi pada saatnya. Rangsangan yang paling ampuh untuk membuat mikroba tersebut hidup lagi adalah air hujan.
Jadi, ketika ada beton yang terbuat dari campuran semen dan bakteri bacillus itu yang retak, masyarakat tidak perlu cemas. Dengan bantuan guyuran hujan, retakan beton tersebut akan tertutup kembali setelah bakteri bacillus hidup lagi dan buang hajat.
Menurut ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia itu, untuk mendapatkan hasil semen hidup yang maksimal, ada takaran ideal antara jumlah semen dan mikroba bacillus. Yakni, setiap satu meter kubik semen idealnya dicampur dengan 15 kg bakteri bacillus.
’’Sebenarnya komposisi bakterinya bisa dikurangi. Tapi, hasilnya memang kurang efektif. Yang bagus bila jumlah bakterinya lebih banyak karena kita tidak tahu di mana saja beton yang retak,’’ jelas bungsu dua bersaudara itu.
Rhesa menegaskan, proses memperbaiki sendiri tersebut hanya berlaku di retakan-retakan dalam. Proses penimbunan kapur dari bakteri tidak akan sampai ke permukaan beton. Sebab, bakteri itu akan mati jika terpapar sinar matahari secara langsung.
Dalam penelitiannya, Rhesa sempat mengalkulasi berapa lama semen hidup memperbaiki diri sendiri. Untuk sebuah retakan berukuran 0,8 milimeter, misalnya, dibutuhkan waktu sekitar tiga pekan untuk menutup sendiri. Ketika retakan menyebar, masing-masing bisa memperbaiki sendiri karena di sekelilingnya ada sekumpulan bakteri. Sementara itu, untuk kembali ke kekuatan beton seperti semula, dibutuhkan waktu sekitar dua bulan.
Inovasi Rhesa cs memang belum sempurna dan masih di permukaan. Karyanya juga belum berwujud prototipe. Tetapi, inovasi itu sudah menarik perhatian pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Bandung. Secara khusus, tim Rhesa diundang makan malam oleh pengurus Hipmi Bandung akhir Maret lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Hipmi memberikan apresiasi atas lahirnya inovasi semen hidup. Inovasi itu berpotensi diproduksi secara masal. Hipmi bahkan berharap sebelum lulus kuliah Rhesa dan kawan-kawan bisa menjadi pengusaha semen hidup.
’’Kalau menunggu lulus, nanti malah tergiur iming-iming gaji besar menjadi pegawai,’’ ungkap mahasiswa semester enam itu.
Namun, ketika ditanya apakah berniat mengembangkan inovasi semen hidup menjadi produk dagangan, Rhesa menjawab diplomatis. Untuk saat ini, dia memilih berfokus menyelesaikan kuliah yang tinggal dua semester lagi. ’’Sebab, kuliah saya masih dibiayai orang tua,’’ tuturnya lantas tertawa.
Rhesa menambahkan, delapan karya inovasi lainnya juga tidak kalah keren. Di antaranya, robot yang bisa bermain angklung, pemanfaatan mikro-alga yang mampu mengonversi limbah tambak menjadi biodiesel, serta aplikasi peringatan bencana yang diberi nama Darurat.
Rhesa berharap pemerintah berkomitmen mengakomodasi inovasi-inovasi anak negeri yang berdaya guna tinggi. Baik di bidang infrastruktur, ketahanan energi, ketahanan pangan, maupun bidang lain. ’’Biar ada gunanya penelitian ini,’’ tandas dia. (*/c5/ari)

sumber :
http://www.jawapos.com/baca/artikel/15372/beton-yang-retak-bisa-kembali-utuh

Ikatan kedinasan beasiswa penuh

Mohon diinfokan kepada Siswa.. or ang tua yg ingin menyekolahkan lanjut putra/i nya
Bagi saudara yang lulus SMA/K Tahun ini, bersama ini kami sampaikan
Daftar Perguruan Tinggi Ikatan Dinas dan Besiswa Penuh, yaitu:
1. Akademi Ilmu Pemasyarakatan Jakarta, Jalan Raya Gandul Cinere, Jakarta selatan, website www.depkumham.go.id
2. Akademi Kimia Analis Jawa Barat, Jalan Ir H Juanda 7, Bogor, website www.aka.ac.id
3. Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta, Jalan Timbul 34, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, website www.app-jakarta.ac.id
4. AKAMIGAS-STEM – Akademi Minyak dan Gas Bumi (Sekolah Tinggi Enerji dan Mineral) di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI. Lokasi kuliah Cepu, Jawa Tengah (Kawasan Rig dan pengeboran minyak) – Info bisa dilihat di www.akamigas-stem.esdm.go.id
5. AKIP – Akademi Ilmu Permasyarakatan di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Pendaftaran online di www.depkumham.go.id atau www.ecpns.kemenkumham.go.id Lokasi kuliah di Depok.
6. Akmil - Akademi Militer RI. Untuk pendaftaran bisa search di www.akmil.go.id
7. Akpol - Akademi Kepolisian RI. Untuk pendaftaran bisa search di www.penerimaanp olri.go.id
8. Badan Meteorologi Nasional (BMG), Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG), Jalan Perhubungan I No 5, Komplek Metro, Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, website www.amg.ac.id
9. Badan Pusat Statistik (BPS), Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Jalan Otto Iskandardinata No 64C, Jakarta Timur, website www.stis.ac.id
10. Sekolah Tinggi AKuntansi Negara (STAN), Jalan Bintaro Utama Sektor V, Bintaro Jaya, Tangerang, website www.stan.ac.id
11. MMTC – Sekolah Tinggi Multi Media Training Center di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo) Pendaftaran online di www.mmtc.ac.id Lokasi kuliah di Yogyakarta
12. Politeknik Kesehatan DEPKES Surabaya, Jalan Pucang Jajar Tengah 56, Surabaya, website www.poltekkesdepkes-sby.ac.id
13. Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi, Jalan Cimandiri 34-38, Bandung, website www.lan.go.id
14. Sekolah Tinggi Manajemen Industri Jakarta, Jalan Letjen Suprapto 26, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, website www.stmi.ac.id.
15. Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Jalan Dr Setiabudi 186, Bandung, website www.stp- bandung.ac.id
16. Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia, Curug Banten, Jalan Raya PLP Curug, Tangerang, website www.stpicurug.ac.id
17. Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, Jalan AUP, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, website www.stp.dkp.go.id.
18. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional Yogyakarta, Jalan Tata Bumi 5, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta, website www.stpn.ac.id
19. Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN), Jalan Raya Haji Usa, Desa Putat Nutug, Ciseeng, Bogor, website www.stsn-nci.ac.id
20. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Jawa Barat, Jalan Jakarta No 31, Bandung, website www.stttekstil.ac.id
21. Sekolah Tinggi Transportasi Darat Jawa Barat, jalan Raya Setu Km 3,5 Cibuntu, Cibitung, Bekasi, Jawa barat, website www.sttd.wetpaint.com.
22. Sekolah Tingi Kesejahtraan Sosial Jawa Barat, Jalan H Juanda 367, Bandung, website www.stks.ac.id
23. STIS – di bawah Badan Pusat Statistik (dapat uang saku per bulannya Rp. 850.000), pendaftaran online di www.stis.ac.id . Lokasi kuliah Jakarta
24. STPDN/IPDN – Institut Pemerintahan Dalam Negeri di bawah Kementerian Dalam Negeri RI. Untuk pendaftaran bisa search di www.bkd.prov.go.id
25. STPN – Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional di bawah Badan Pertanahan Nasional RI. Pendaftaran online di www.stpn.ac.id Lokasi kuliah Yogyakarta
26. STSN – Sekolah Tinggi Sandi Negara – di bawah Lembaga sandi Negara. Pendaftaran online di www.stsn-nci.ac.id Lokasi kuliah di Bogor